Kisah memuliakan tamunya Rasulullah
Ketika Allah melihat salah satu bentuk, dimana Allah Swt memperlihatkan kepada hamba â hambaNya bahwa Allah melihat semua perbuatan yang terkecil sekalipun. Maka disaat itu datanglah tamu kepada Sang Nabi saw dan Sang Nabi saw tidak bisa menjamunya karena tidak ada makanan.
Rasul tanya pada istrinya “punya makanan apa kita untuk menjamu tamu ini?”,
istri Nabi saw menjawab “tidak ada, yang ada cuma air”.
Maka Rasul berkata siapa yang mau menjamu tamuku ini? Satu orang anshar langsung mengacungkan tangan aku yang menjamu tamumu ya Rasulullah. Bawa ke rumahnya, sampai dirumah mengetuk pintu dengan keras hingga istrinya bangun.
Kenapa suamiku? kau tampak terburu â buru. “akrimiy dhaifa Rasulillah” kita dapat kemuliaan tamunya Rasulullah. Ayoo.. muliakan, keluarkan semua yang kita miliki daripada pangan dan makanan, semua keluarkan. Ini tamu Rasulullah bukan tamu kita, datang kepada Rasul, Rasul saw tidak bisa menyambutya.
Rasul tanya “siapa yang bisa menyambutnya?”, aku buru – buru tunjuk tangan, ini kemuliaan besar bagi kita.
Istrinya berkata “suamiku, makanannya hanya untuk 1orang. Tidak ada makanan lagi, itu pun untuk anak â anak kita. 2 orang anak â anak kita hanya akan makan makanan untuk 1 orang, kau ini bagaimana menyanggupi undangan tamu Rasul? kau tidak bertanya lebih dulu? apakah kita punya kambing, punya ayam, punya beras, punya roti, jangan main terima sembarangan!”
Maka suaminya sudah terlanjur menyanggupi “sudah kalau begitu anak kita tidurkan cepat â cepat, matikan lampu agar anaknya tidur”. “belum makan, suruh tidur jangan suruh makan malam, biar saja”.
Ditidurkan anaknya tanpa makan. Lalu tinggal makanan yang 1 piring untuk 1 orang, “ini bagaimana? tamunya tidak mau makan kalau hanya ditaruh 1 piring kalau shohibul bait (tuan rumah) tidak ikut makan karena cuma 1 piring makanannya”.
Suaminya berkata “nanti sebelum kau keluarkan piringnya, lampu ini kau betulkan lalu saat makan tiup agar mati pelitanya, jadi pura â pura lampu mati. Taruh piring, silahkan makan dan kita taruh piring kosong di depan kita, tamu makan kita tidak usah makan tapi seakan â akan makan dan tidak kelihatan lampunya gelap”.
Maka tamunya tidak tahu cerita lampunya mati, pelitanya rusak, tamunya makan dengan tenangnya, nyenyak dalam tidurnya, pagi â pagi shalat subuh kembali kepada Rasul saw “Alhamdulillah ya Rasulullah aku dijamu dengan makanan dan tidur dengan tenang”. Rasul berkata “Allah semalam sangat ridho kepada shohibul bait (tuan rumah) yang menjamumu itu” (shahih Bukhari). Allah tersenyum, bukan Allah itu seperti manusia bisa tersenyum tapi maksudnya Allah sangat sayang dan sangat gembira. Dengan perbuatan itu Allah sangat terharu, bukan terharu karena tamunya saja tapi juga karena shohibul bait berucap. “akrimiy dhaifa Rasulillah” muliakan tamu Rasulullah. Ini yang membuat Allah terharu, untuk tamunya Rasulullah rela anaknya tidak makan, tidur semalaman dalam keadaan lapar untuk memuliakan tamunya Rasulullah saw.
Sumber Habib Munzir Al Musawwa
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Terkini
- Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar
- Mengenang KH. Ahmad Asrori Ustman Al-Ishaqy Sang Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyyah
- Malam Lailatul Qadar
- Keutamaan memelihara janggut
- Amalan agar nilai bagus dan hafalan bagus
- Rasulullah pernah melakukan shalat tarawih dengan cepat tapi sempurna tuma’ninahnya
- Doa sholat tarawih dan bacaan bilal dari Habib Munzir Al Musawwa
- Taushiyah ‘Pergi Haji dan Umrah Bukan Mimpi’ oleh Ustad Yusuf Mansur
- Doa mendapatkan jodoh dan rezeki menurut Al Quran
- Mukjizat Shalawat
- Cara mengatasi pengaruh sihir , pelet, jin menurut Islam
- Cara melepaskan susuk menurut Islam
-
Taut