Pecinta Rasulullah

Mencintai Rasulullah – Bershalawat

HIMBAUAN ALBAYYINAT

Hai pemuda-pemuda Syi’ah, berpikirlah terhadap agidah yang kalian ikuti, agidah yang dapat membawa kepada kekufuran. Agidah yang disajikan oleh seorang YAHUDI, dengan harapan pengikutnya keluar dari agama Alloh dan berganti agama baru yang tidak ada hubungannya dengan Islam dan Muslimin.

  Marilah kita bersama-sama meninggalkan dan memetieskan kitab-kitab yang telah menghina Kitab Alloh dan Sunnah Nabi, dimana di dalamnya penuh dengan cacian dan laknat melaknat yang di tujukan kepada para Sahabat Rosululloh Saw.

  Marilah kita kumandangkan cinta kita kepada Ahlul Bait dengan tidak berlebih-lebihan, karena barang siapa tidak mencintai mereka berarti keluar dari agama.

  Sebagai keturunan Imam Ali, kami bersumpah bahwa cinta kami kepada beliau melebihi kalian. Tapi kami tidak akan menempatkan beliau di satu tempat yang bukan tempatnya, serta tidak memberikan sifat ma’shum kepadanya, karena beliau bukan seorang Nabi apalagi Tuhan.

  Beliau adalah seorang pemberani dari sekian banyak pemberani yang mendampingi Rosululloh. Beliau adalah ayah dari Al Hasan dan Al Husin

 

( Sayyidaa Syabaab Ahlul Jannah ), sedang istrinya adalah Siti Fatimah Azzahra

( Sayyidatu Nisaail Aalamin ) , putri Siti Khadijah Al Kubro

( Sayyidatu Nisa’ Ahlil Jannah ). Barangsiapa memusuhi mereka, maka sama dengan memusuhi Alloh dan Rosulnya.

  Cukuplah kemuliaan dari Alloh pada mereka, dan apakah cinta pada Ahlul Bait harus dibarengi dengan benci kepada para Sahabat serta mengkafirkan Khulafaurrosyidin dan Siti Aisyah ?.

  Semoga setelah kalian membaca HIMBAUAN ini , Alloh akan membuka hati kalian dan menyelamatkan kalian dari azab api neraka.

  Hanya hidayah dari Alloh yang dapat menunjukkan jalan yang benar, sedang kewajiban seorang utusan hanya menyampaikan.
  Wasalamun alal Mursalin walhamdu lillahi Robbil Alamiin.

April 15, 2008 - Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam, Habib, Makrifat, Manaqib, Mencintai Rasullullah dan Ahlul Bait, Politik, Renungan, Tariqah, URL, Wali | | & Komentar

& Komentar »

  1. Kebangkrutan Musuh-musuh Syi’ah!!
    Ditulis pada Mei 13, 2008 oleh Ibnu Jakfari
    Perbedaan antara mazhab Syi’ah dan Ahlusunnah yang terjadi hampir di sepanjang rentang sejarah umat Islam, sering dipicu oleh kesalah-pahaman antara kedua belah pihak atau raibnya etikat baik dari kedua pihak atau dari salah satu pihak yang sedang berselisih atau tidak diindahkannya norma-norma yang harus terpenuhi dalam berdialoq.
    Perbedaan yang terjadi di sepanjang sejarah umat Islam itu, sering kali berkembang menjadi pertentangan dan sebuah konflik antara kedua pihak. Keterlibatan pihak ketiga yang merasa diuntungkan dengan makin tajamnya perselisihan itu tidak bias dipungkiri.
    Artikel ini akan menyoroti berbagai bentuk kerancuan dalam etika berdialoq dan norma-norma yang diabaikan oleh salah satu pihak dalam menyikapi perselisihan dan ikhtilâf yang selama ini terjadi antara Syi’ah dan Sunni.
    Sikap Ulama Sunni Dalam Menanggapi Gugatan Syi’ah
    Jauh sejak beradab-abad silam, sejak generasi awal, telah terjadi silang pendapat dan perbedaan yang lumayan tajam antara mazhab Syi’ah Ja’fariyah Itsnâ’asyariyyah dengan kelompok-kelompok pemikiran lain yang berkembang di tengah-tengah umat Islam, baik Mu’tazilah maupun Ahlusunnah.
    Polemic perkembangan itu telah mewariskan kepada kita kekayaan pemikiran yang berharga andai kita pandai memanfa’atkannya dan sekaligus melaporkan bagaimana gentingnya perselisihan itu… sehingga tidak jarang, semangat untuk mengalahklan lawan dialoq menindas obyektifitas pembahasan dan mencoreng kualitas ilmahnya.
    Dengan menetili kualitas bantahan dan dialoq atau polemic yang terjadi antara tokoh-tokoh kedua mazhab dapat kita saksikan adanya ketidak beresan pada pihak lawan-lawan Syi’ah dalam sanggahan atau hujatan mereka terhadapa mazhab Syi’ah Ja’fariyah Itsnâ’asyariyyah. Ketidak beresan itu terlihat pada:
    1) Tidak jarang gugatan dan bantahan itu rancu dan tidak mengena pada poin inti yang diajukan ulama Syi’ah.
    2) Gugatan dan bantahan Sunni atas Syi’ah tidak memenuhi standar ilmiah yang harus terpenuhi, seperti:
    A) Berhujjah dalam menghujat lawan dengan dalil yang hanya diakui oleh pihak penghujat saja.
    B) Berhujjah dalam menghujat lawan dengan hadis-hadis yang tidak berkualitas, lemah atau bahkan mawdhû’/palsu.
    3) Kental denga nuansa emosianoal dan menggunakan kata-kata tidak sopan dan caci maki.
    4) Menuduh tanpa dasar pihak lawan dengan keyakinan-keyakinan yang tidak mereka yakini.
    5) Memberlakukan standar ganda dalam menilai sebuah hujjah/dalil; hadis atau menetukan vonis.
    6) Menolak tanpa alasan dan hujjah hadis shahih yang diajukan ulama Syi’ah.
    7) Menolak dengan tanpa alasan semua hadis/bukti yang bertentangan dengan doqma ajaran mereka.
    Dan selain yang disebutkan di atas mungkin masih ada ketidak beresan lain yang akan disinggung dicelah-celah pembahasan nanti. Tidak seluruh poin di atas yang hendak penulis soroti kali ini, hanya sebagiannya yang akan menjadi bahan telaah.
    •Gugatan dan bantahan Sunni atas Syi’ah tidak memenuhi standar ilmiah
    Dalam menghadapi dalil-dalil Syi’ah tentang Imam Ali as., Ahlusunnah terpaksa tidak menggunakan dalil standar yang layak dijadikan dalil…. Mereka hanya mampu menyajikan beberapa hadis, selain hadis-hadis itu hanya diriwayatkan oleh AHlusunnah sendiri, pada sanadnya masih banyak masalah, seperti hadis perintah mengikuti Syaikhain, dan hadis shalat Abu Bakar di hari-hari akhir hidup Nabi saw.!
    Ibnu Hazm al Andalusi berkata:
    إختلف الناس فِي الإمامة بعد رسول الله (ص)، فقالت طائفةٌ: إنَّ النبي لَم يستخلِف أحدًا، ثم اختلفوا، فقال بعضهُم: لكن لمَّا استخلف أبا بكر على الصلاة كان ذلك دليلاً على أنه أولاهُم بالإمامة و الْخلافة على الأمر. و قال بعضهم: لا، و لكن كان أبينهم فضلا فقدَّموه لذلك، و قالت طائفة: بَل نصًّ رسولُ الله على استخلافِ أبي بكر بعده على أمور الناس نصا جليا.
    “Manusia berselisih tentang imamah sepeninggal Rasulullah saw. Sekelompok orang berpendapat: Nabi tidak menunjuk seorang pun. Kemudian mereka berselisih, sebagian berpendapat: Akan tetapi nabi menunjuk Abu Bakar untuk memimpin shalat dan itu bukti bahwa ia paling berhak atas imam dan urusan manusia. Sebagian berpendapat: Tidak, akan tetapi dia adalah yang paling nyata keutamaannya, maka para sahabat mengedepaknannya sebagai Khalifah. Sekelompok orang berpendapat bahwa Nabi telah menunjuk Abu Bakar dengan penunjukan tegas untuk memimpin.” (Demikian dikutip Ibnu Taimyah dalam Minhâj as Sunnah,6/33
    di sini Anda pasti ingin mengetahui mana di antara pendapat-pendapat di atas yang dipilih Ibnu Hazm? Ternyata Ibnu Hazm lebih memilih pendapat yang mengatakan penunjukan atas Abu Bakar. Ia berkata:
    و بهذا نقول، لِبراهين.
    “Pendapat inilah yang kami pilih, disebabkan beberapa burhan/bukti.”
    Setelahnya ia menyebutkan beberapa hadis pengangkatan Abu Bakar dari riwayat Aisyah dan beberapa anggota keluarga Abu Bakar sendiri!
    Kemudian ia melanjutkan dengan menyebut dalil mereka yang meyakini tidak adanya nash/penunjukan yaitu hadis Ibnu Umar yang menegaskan bahwa Nabi saw. Tidak menunjuk sispa-siapa untuk menjadi Khalifah! Dan untuk memnajwabnya Ibnu Hazm berkata:
    و مِن الْمحال أن يُعارِضَ إجماعَ الصحابة.
    “ Dan adalah mustahil ia (hadis Ibnu Umar itu) dapat melawan ijma’ para sahabat.”!!!
    Di sini Ibnu Hazm dengan terpaksa mengakui baik ia sadari atau tidak bahwa nash/penunjukan atas Abu Bakar itu tidak pernah ada…. Ia terpaksa kembali mengandalkan dalil ijma’!!
    Anda akan terheran ketika menyaksikan ulama Sunni dalam bantahannya atas kayakinan Syi’ah tentang bahwa Imam Ali as. adalah Khalifah dan Imam/pemimpin yang telah ditunjuk Nabi saw. dengan nash terang… dan nash-nash itu dapat ditemukan dalam kitab hadis standar Sunni dan telah diriwayatkan para muhaddis mereka dengan sanad-sanad yang kuat dan berkualitas… Anda akan terheran ketika ternyata ulama Sunni membantahnya dengan mengajukan hadis-hadis tertentu yang hanya ada dan diakui kalangan Suuni sendiri, sementara Syi’ah tidak mengakuinya karena memang tidak ada dalam kitab-kitab standar Syi’ah… dengan mengatakan bahwa hadis itu terbantah dengan hadis yang menunjukkan bahwa Nabi saw. tidak menunjuk seorangpun untuk jabatan itu atau bahwa Nabi saw. telah mengisyaratkan kepada Abu Bakar untuk menduduki jabatan itu…
    Jelas berhujjah atas lawan dialoq yang sedang berselisih pendapat dengan kita hendaknya dengan mengajukan dalil yang diakui oleh pihak lawan dialoq kita, seperti terdapat dalam kitab yang ia akui ke mu’tabarannya. Akan tetapi jika hal tidak dipenuhi, maka hujjah yang kita ajukan itu menjadi tidak berguna, sebab ia akan mengatakan kepada kita bahwa dalil itu tidak pernah dia akui kesahahihannya.
    Ketika para ulama Syi’ah berhujjah dengan hadis Ghadir yang mengatakan bahwa Nabi saw. telah menujuk Ali as. sebagai pemimpin setelahnya… dan hadis Ghadir itu telah diriwayatkan dan dishahihkan para ulama Sunni… itu adalah sudah kucup memenuhi standar ilmiah dalam berhujjah. Di sini datanglah para ulama Sunni untuk mengatakan bahwa ada hadis yang mengatakan bahwa Nabi saw. telah mengisyaratkan bahwa Abu Bakarlah yang telah beliu restui sebagai pemimpin setelahnya, ketika beliau saw. menunjuknya sebagai imam dalam shalat selama Nabi saw. sakit di akhir hidup beliau.
    Terlepas dari shahih atau tidaknya hadis itu, dan terlapas dari sehat-tidaknya kesimpulann yang mereka bangun darinya, terlepas dari itu semua bahwa berhujjah atas Syi’ah dengan hadis yang hanya diriwayatkan oleh Sunni adalah hal menyalahi etika berdialoq. Kalau mau benar semestinya para ulama Sunni itu harus mampu membuktikan dari kitab-kitab standar Syi’ah bahwa hadis itu shahih atau paling tidak ada dalam kitab-kitab standar Syi’ah itu hadis yang membatalkan penujukan Ali as. Sebagai Khalifah!
    Ketika ulama Syi’ah mengajukan bukti tentang Imamah Ali as. Dengan hadis Manzilah misalnya, maka para ulama Sunni menandinginya dengn hadis yang menjeleskan kedudukan Abu Bakar atau Umar yang sepadan dengan kedudukan Ali as. Sementara hadis terakhir ini hanya ada di kalangan Sunni saja! Itupun dengan kualitas sanad yang memalukan.
    Ketika ulama Syi’ah mengangkat hadis Madinah Ilmu sebagai bukti imamah Ali as. maka ulama Sunni akan menyajikan hadis tandingan yang mengatakan bahwa Abu Bakar juga pintu kota ilmu Nabi saw.
    Serta masih banyak lagi contoh lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu di sini.
    •Berhujjah dengan hadis-hadis dhaif atau bahkan mawdhû’/palsu.
    Satu lagi catatan reputasi buruk para ulama Sunni ketika berhadapan dengan ulama Syi’ah dalam memperdebatkan keyakinan mereka, yaitu mereka sering membela diri dari gugatan Syi’ah yang mengajukan bukti-bukti dari dahis-hadis shohih dari riwayat Sunni dengan hadis-hadis lain yang lemah atau bahkan palsu dalam pandangan ulama Sunni sendiri… Di sini ada dua kegagalan dalam berdialoq, pertama, dalil itu hanya ada dan diakui dalam leteratur Sunni, kedua, hadis itu lemeh dan tidak berkualitas.
    Kenyataan ini sering kita jumpai dalam argumentasi Sunni melawan Syi’ah. Seperti, ketika Syi’ah mengajukan bukti akan keharusan mengukuti ajaran para imam suci Ahlulbait as. Melalui hadis Tsaqalain dan hadis Safinah misalnya… maka di sini ulama Sunni berusaha mencacat kualitas hadis itu. Akan tetapi ketika hal itu tidak akan membuahkan hasil sebab hadis itu kuat dan shahih, maka mereka mengatakan hadis itu bertentang dengan hadis lain yang memerintahkan umat Islam untuk mengikuti sahabat Nabi saw. hadis itu dikenal dengan nama hadis an Nujûm.
    Sementara itu para pakar dan ahli hadis Sunni telah mengatakan bahwa paling tidak hadis itu sangat lemah, atau bahkan mawdhû’/palsu.
    Sikap tidak ilmiah itu telah dipraktikkan oleh banyak ulama Sunni, di antaranya adalah Ibnu Taimiyah, Fakhurrazi, ath Thaybi, asy Syathibi, ad Dahlawi dll.
    Ini dapat menjadi indikasi kuat akan kebangkrutan dunia argumentasi Sunni, jika tidak mengapa harus hadis palsu dan lemah yang diandalkan?
    Selain itu, hal ini dapat membuka peluang untuk mengatakan dimanakah keseriusan keberagamaan mereka, setelah mengetahui cacat sebuah hadis, tetap saja mereka jadikan hujjah untuk menegakkan pondasi ajaran agama mereka? Bukankah sikap itu dapat tergolong sebagai menipu dan membodohi kaum awam?!
    •Memberlakukan Standar Ganda
    Betapa bangga ulama Sunni dengan kualitas kitb Shahih Bukhari. Tak tanggung-tanggung pujian yang mereka berikan untuknya, seluruh hadis musnad di dalamnya adalah shohih dan ia adalah kitab tershahih setelah Al Qur’an al Karim; kitab suci yang tiada keraguan dan kebatilan di dalamnya.
    Akan tetepi, semua itu akan dikesampingkan dan seakan tidak bernilai ketika ternyata ditemukan dalam kitab Shahih Bukhari hadis yang tidak menguntungkan mazhab Sunni atau meruntuhkan bangunan keyakinan yang mereka imani.
    Shahih Bukhari sekarang tidak lagi disakralkan, dan Imam Bukharinya pun tidak dinomor satukan. Kini hadisnya menjadi bulan-bulanan para pencacat dan sasaran kritik para kritikus?
    Sekali lagi, hanya ketika Bukhari tidak menguntungkan mereka atau lebih tepatnya, ketika Bukahri mempersenjatai ulama Syi’ah dengan hadis yang mendukung mazhab mereka!
    Contoh segar sikap ini adalah sikap dan penolakan ulama Sunni atas hadis Manzilah yang tegas-tegas merupakah salah satu bukti kuat imamah Ali as.
    Apa pijakan mereka dalam menolak keshahihan hadis Manzliah? Karena al Âmidi menolak kesahahihnya! Siapa al Âmidi itu? Ternyata ia adalah seorang alim yang mereka cacat sendiri kualitas ilmu dan keberagamaannya.
    Perhatikan, bagaimana mereka dengan tanpa taqwa menolak hadis shahih hanya karena ucapan seorang al Âmidi yang cacat dan diragukan agamanya!
    Mengapakah mereka campakkan penshahihan para pakar ilmu hadis dan kini mengandalkan seorang yang setengah awam dalam dunia hadis? Semua itu harus mereka lakukan, sebab kalau tidak meraka akan terdesak oleh argumentasi Syi’ah yang kuat dengan shahihnya hadis Manzliah! Yang penting kita jangan sampai kalah! Apapu harus dilakukan untuk menang!
    Selain hadis Manzilah masihg banyak contoh lain, sengaja kami tinggalkan, kami khawatir Anda makin tidak simpatik dengan ulah ulama seperti itu!
    •Menolak Hadis Sesuai Hawa Nafsu
    Berapa banyak hadis shohih mereka tolak, berapa perawi jujur dan tsiqah mereka cacat ketika dikatahui bahwa perawi itu meriwayatkan hadis keutamaan Ahlulbait as. atau ketika hadis itu memuat keutamaan Ahlulbait as.!
    Sikap anti-pati seperti sangat jelas dalam perlakuan ulama Sunni dalam menyikapi hadis-hadis fadhâil Ahlulbait as. Tidak jarang sikap kebingungan dan ketidak jelasan standarisasi dalam menilai hadis tampak dari sebagian mereka. Sebagaimana klaim ijmâ’ sering dipalsukan untuk kepentingan mereka.
    Ibnu Hazm, Ibnu al Jawzi dan Ibnu Taimiyah mungkin termasuk di antara ratusan ulama yang paling berani menerjang rambu-rambu etika islamiyah dalam menerima atau menolak sebuah hadis.
    Terlalu sering Ibnu Taimiyah menolak hadis dengan dorongan nafsunya sediri ketika ia tidak berselera terhadapnya.
    Sebagaimana caci maki dan kata-kata keji dan kotor yang tak senonoh juga menjadi kebiasaan buruknya.
    Begitu juga dengan Ibnu Hazm dan Ibnu Jawzi terlalu berani dan gegabah dalam menvonis hadis dan terlihat tidak memiliki standarisasi yang jelas dan ilmiah dalam penilaiannya

    Komentar oleh udin | Mei 21, 2008 | Balas

  2. [...] HIMBAUAN ALBAYYINAT [...]

    Ping balik oleh az-zahro’s Blog » Blog Archive » HIMBAUAN ALBAYYINAT | Desember 29, 2008 | Balas

  3. Ass. tolong dong M. syafi’e berdebat dengan Syiah yang berdasarkan dalil naqli dan aqli, jangan hanya berdasarkan aqal, nafsu belaka, biar yang baca tambah wawasan, terimaksih Wasslam

    Komentar oleh haydar | Juli 7, 2009 | Balas

  4. salam! pemuda syiah yg dsebut cintanya tdk lebh dr m syafi’e dlm cintanya pd ahlbayt sebgmn nasabnya adlh dzuriah. namun anehnya knp mrk syiah rela mengakui sydn Ali adlh imam mrk? bhkn diera empat kalifah jg hanya ada 1 imam, Imam Ali! mana lbh dperhatikan/dianut, imam ato kalifah? lalu bgmn ketika imamnya jg kalifah? apkh semua umat taat pdnya? apa hukumnya bg pembangkang imam yg jg kalifah? yg bhkn diantaranya jg menyatakan cinta n dukungan pd imam sblumnya! apa tdk layak dihukumi krn mrk sahabat2 nabi saw? apa buktinya cinta ?

    Komentar oleh a y hartono | Agustus 3, 2009 | Balas

  5. ada satu pertanyaan yang sepertinya sulit di jawab oleh kalangan keturunan ahlul bait penganut faham ahlusunnah waljamaah khususnya pengikut mazhab syafii……sejak kapan/mulai siapa yang menganut faham ahlusunnah tersebut dan kenapa?

    kalau boleh saya mengibaratkan, ibarat kristen dengan trinitasnya dan ahlulsunnah dengan thariqoh alawiyah …..di satu sisi mengikuti imam syafie tetapi di satu sisi juga pengikut imam dari kalangan ahlul bayt yang jelas-jelas bukan pengikut syafie. di katakan thoriqoh alawiyah mengikuti jalan datuk-datuknya….tapi datuk yang mana dan sampai di mana?

    kalau ada yang menanyakan, akan selalu di ancam akan keluar dari golongan yang selamat dan terbanyak….ibarat kristen yang menanyakan trinitas akan di ancam tidak beriman…..

    gimana donk? help me please…..

    maaf saya menggunakan perumpamaan trinitas…memang tidak sama…tetapi bisa di ibaratkan sama konsepnya…

    walluhu a’lam

    Komentar oleh tempe penyet | September 1, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar