Pecinta Rasulullah

Mencintai Rasulullah – Bershalawat

Pengamalan Tasawuf Ala Al Habib Luthfi

Berikut ini petikan wawancara crew Habibluthfiyahya.net dengan Al Habib Luthfi bin Yahya. Dalam wawancara kali ini Al Habib menjelaskan bagaimana tasuf dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa pandangan-pandangan Al-Habib tentang tasawuf?

Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri.

Bagaimana kita masuk masjid dengan kaki kanan dahulu. Dan bagaimana membiasakan masuk kamar mandi dengan kaki kiri dulu dan keluar dengan kaki kanan. Artinya bagaimana kita mengikuti sunah-sunah Nabi. Itu sudah merupakan bagian dari tasawuf.

Bukankah hal semacam itu sudah diajarkan orang tua kita sejak kecil?
Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi SAW.

Tapi mereka mengajarkan untuk langsung diterapkannya. Kini kita tahu kalau yang diajarkannya itu adalah merupakan tuntunan Nabi. Itu adalah tasawuf. Sebab tasawuf itu tak pernah terlepas dari nilai-nilai akhlaqul karimah. Sumber tasawuf itu adalah adab. Bagaimana adab kita terhadap kedua orang tua, bagaimana adab pergaulan kita dengan teman sebaya, bagaimana adab kita dengan adik-adik atau anak-anak kita. Bagaimana adab kita terhadap lingkungan kita.

Termasuk ucapan kita dalam mendidik orang-orang yang ada di bawah kita. Kepada anak-anak kita yang aqil baligh, kita harus bener-bener menjaganya agar jangan sampai mengeluarkan ucapan yang kurang tepat kepada mereka. Sebab ucapan itu yang diterima dan akan hidup di jawa anak-anak kita.

Bagaimana sikap kita berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang sudah carut maut?
Mampukah ketika kita berhadapan dengan lingkungan yang demikian itu? Ketika kita asik-asiknya bergurau, maka berhentilah sejenak. Kita koreksi apakah ada sesuatu yang kurang pantas? Agar hal yang demikian itu tak dicontoh atau ditiru oleh anak-anak kita. Itu sudah merupakan tasawuf. Jadi dalam rangka pembersihan hati, bisa dimulai dari hal-hal kecil semacam itu.

Lalu kita tingkatkan dengan tutur sikap kita terhadap orang tua. Ketika kita makan bersama orang tua. Janganlah kita menyantap lebih dahulu sebelum bapak-ibu kita memulai dulu. Janganlah kita mencuci tangan dahulu sebelum kedua orang tua kita mencuci tangannya. Makanlah dengan memakai tangan kanan. Dan jangan sampai tangan kiri turut campur kecuali itu dalam kondisi darurat. Sebab Rasulullah tak pernah makan dengan kedua tangannya sekaligus. Ini sudah tasawuf.

Apa yang sebenarnya menarik dari Al-Habib, sehingga begitu getol menekuni dunia tasawuf?
Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karna setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah SWT.

Sehingga kita tidak lagi mempunyai prasangka-prasangka yang buruk, apalagi berpikiran jelek dalam pola pikir dan lebih-lebih lagi di hati. Sebab tasawuf itu tazkiyatul qulub, yakni untuk membersihkan hati. Jika hati kita ini bersih, maka hal-hal yang selalu menghalangi-halangi hubungan kita kepada Allah itu akan sirna dengan sendirinya. Sehingga kita senantiasa mengingat Allah.

Ibarat besi, hati kita itu sebenarnya putih bersih. Hanya karena karatan yang bertumpuk-tumpuk lantaran tak pernah kita bersihkan, sehingga cahaya hati itu tertutup oleh tebalnya karat tadi. Na’udzubillah kalau sampai hati kita seperti itu.

Lantas dari mana kita mesti memulai untuk pembersihan hati tersebut?
Ikutlah dahulu ajaran fiqih yang tertera dalam kitab-kitab fiqh. Seperti arkanus shalat (rukun-syarat sholat), lalu adabut shalat, adabut thaharah dan seterusnya. Marilah itu semua kita pelajari dan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Ketika kita diundang untuk menghadiri acara walimah di sebuah gedung misalnya, maka kenakanlah pakaian yang bagus-bagus.

Sebab itu demi menghormat dan untuk menyaksikan kehalalan kedua mempelai di pelaminan. Untuk menghormati acara tersebut, kita menggunakan pakaian yang rapi. Sebab pada hakikatnya, kita telah menghormati Allah SWT yang telah menghalalkan hal tersebut.

Kita juga menghormati yang telah mengundang kita, serta menghormati sesama kita dalam gedung atau dalam jamuan tersebut. Kalau kita bisa menyaksikan aqdun nikah (akad nikah) secara demikian, mengapa kalau kita menghadap langsung kepada Allah SWT, tidak pernah melakukan penghormatan yang demikian itu?

A-Habib dikenal sebagai mursyid thariqah, tetapi kelihatan gemar memainkan alat musik?
Di sana kita akan menemukan kekaguman. Ilmullah yang ada dalam music itu sendiri. Diantaranya notnya itu hanya ada 7; do re mi fa sol la si do, do si la sol fa mi re do. Sedangkan oktafnya ada 7, suara miringnya 5, jadi ada 12. Yang memakai adalah di seliruh dunia, dan mengeluarkan lagu yang beragam. Itu merupakan satu hal yang sangat menarik.

Ketika orang mendengarkan musik, mereka bisa menangis dan tertawa, bersedih dan bersuka ria. Nah, yang berupa benda saja bisa menghasilkan efek semacam itu. Lantas bagaimana kalau kita tengah mendengar lantunan  ayat Al-Qur’an sedang dibacakan? Mesti akan jauh lebih dari itu. (Ts/hly.net)

Sumber Website Habib Lutfi bin Yahya

Desember 8, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | 1 Komentar

Tahapan Mengenal Allah Swt (Habib Lutfi bin Yahya)

Berikut ini pandangan  Al Habib Luthfi tentang tahapan mengenal Allah Swt. Hasil wawancara Crew habiblutfiyahya,net dengan beliau.

Hly.net: Bagaimana  cara belajar mengenal Allah?
Al Habib: Kita mengenali tentang apa yang diciptakan oleh Allah terlebih dahulu. Dari mengenali ciptaanNya itulah, lantas kita mengenali siapa yang menciptakannya. Nah, disitulah kita akan melihat kebesaran-kebesaran Allah SWT yang ditunjukkan kepada kita semua.

Setelah kita sudah mengenalnya, lalu kita tingkatkan lagi. Sadarkah kita sebagai hamba, mengertikah kita sebagai hamba, tentang apa kewajiban kita sebagai seorang hamba? Lantas bagaimana seharusnya perilaku seorang hamba yang telah mengenal kepada Tuhannya? Setelah itu kita tingkatkan lagi ke atas. Kita  ini sejatinya diundang oleh waktu. Maka kita harus menghormati waktu.

Begitu tingkat kesadarannya sudah tinggi, maka kalau waktu shalat sudah datang kenapa kita mesti menunda waktu untuk  bergegas melakukannya? Seharusnya kita kan justru bersiap-siap untuk menunggu datangnya waktu tersebut, menghormat panggilan Allah SWT untuk shalat.

Bukankah setiap kali berkumandang adzan, itu merupakan panggilan yang telah memperingatkan kita? Sehingga ketika terdengar suara adzan, kita merasa senang dan gembira, lantas bersiap-siap untuk hormat akan datangnya panggilan Allah tersebut.

Hly.net: Tetapi dalam kenyataannya, hal demikian terasa sulit untuk dilakukan?
Al Habib: Untuk meraih tingkat demi tingkat semacam itu, memang bukan hal yang gampang. Oleh karnanya, kita perlu sering datang ke suatu majlis dengan para ulama’, para shalihin, untuk mendengarkan fatwa-fatwanya.

Kita harus seringa pula mendengarkan petuah dan pandangan-pandangan para auliyaus-shalihin. Rasanya terlalu sulit untuk dapat meraihnya lebih jauh, jika kita jauh dari beliau-beliau itu. Sebab mereka bagaikan ruang yang memiliki lentera, mempunyai batrainya, nah, kita ini bagian yang dioborinya. Semakin kita dekat kepada orang-orang sholihin, maka akan lebih jauh lagi kita dapat mengenal Allah SWT dan RasulNya.

Hly.net: Jalan tercepat yang bagaimanakah, sehingga manusia merasa dirinya senantiasa bersama dengan Allah SWT Dzat yang selalu membimbingnya?
Al Habib: Saya sendiri masih bingung, melihat bagaimana proses orang yang makan langsung sepiring sekali telan? Padahal seharusnya kita menelan sesuap demi sesuap. Yang pentingkan sepiring bisa habis. Namun apa jadinya dipencernaan, jika mulut kita tidak pernah mengunyah untuk membantu pancernaan? Apa hasilnya atau apa yang akan terjadi dalam proses pencernaan tersebut.

Memang menarik, waktu makan yang lebih singkat dan lebih cepat. Jalan yang paling cepat dan tepat untuk mencapai proses makanan, apa nasinya yang lebih baik dibubur saja biar lebih encer, supaya menelannya lebih mudah. Tapi nyatanya semua itu sudah ada tempatnya. Yang mempercepat dan sebagainya itu, sudah ada bagiannya masing-masing. Nah, maka dari itu, tahapan untuk secepat itu tidak mungkin mudah. Contohnya ya seperti orang yang makan sepiring langsung telan tadi.


Hly.net: Lalu apa yang mesti dilakukan, agar dalam beraktivitas kita masih tetap bisa mengingat Allah?

Al Habib: Kalau tidak dilatih ya mana mungkin? Pada awalnya hati itu harus dikasih latihan untuk senantiasa mengingatNya. Itu memang tak mudah. Terkadang sering lupa. Tetapi setelah terbiasa, maka bagian tubuh yang kita latih ini punya reflex sendiri sesuai dengan tempatnya masing-masing.

Gerak tangan saja yang tak berhenti, juga mengikuti gerak ruh. Apalagi dengan hati kita yang terbiasa dengan latihan-latihan. Insya-Allah hati kita tidak akan pernah lupa dzikir kepada Allah SWT. Sebab itu sudah terjadi secara refleks. Maka latihlah senantiasa hati kita. Sebab jika hati itu biasa memandang sesuatu yang baik, berpikir baik, berprasangka yang baik, selamanya hati kita akan timbul secara refleks dengan pandangan-pandangan yang baik sehinga akan selalu jernih. (Hly.net)

Sumber Website Habib Lutfi bin Yahya

* Hly.net = http://www.habiblutfiyahya.net

Desember 4, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | Belum Ada Tanggapan

Jika orang kasyf ketemu orang kasyf.

Kiyai Subhi, kiyai asal  Taman-Pemalang, Kiayi nyentrik ini sering berkunjung ke kediaman Habib Hasyim-Pekalongan. Orang yang melihat pasti nggak nyangka kalau dia ulama besar, sebab datangnya pake caping; sorbanan terus di capingi. Datangnya sama wali  minal auliaillah, wali  besar pula, Mbah Shaleh Bagusan. Dulu sebelum dikenal Mbah Shaleh Bagusan, panggilannya Madyai. Suatu ketika Kiyai Subhi datang ke Habib Hasyim-Pekolngan. Kebetulan Habib Hasyim masih ngajar.

Di ruang tamu Kiyai Subhi ditemani Muhammad Baksyer, dan disuguhi minuman. Baru saja di persilahkan, tiba-tiba tangannya lumpuh. Habib Hasyim selesai ngajar kaget: loh kok minumannya masih utuh. Ini orang kasyf (tahu hakikat sesuatu) ketemu orang kasyf . Jadi paham; tidak mau minum, pasti karena ada yang tidak beres.

Ahirnya Muhammad Baksyer dipanggil: Muh taal! (Muh kesini). Kemudian ditanya sama Habib Hasyim: Muh kamu beli gula dimana ?

Sudah serah terima belum?

‘Belum’ ! jawab Muhammad Baksyer.

‘Balik!’, Habib Hasyim menyuruh.

Setelah sampai ke toko, Muhammad Baksyer ditanya sama pemilik toko, ada apa Muh? Aku tadi beli gula tapi belum ijab-qabul, saya mau mengucapkan’aku beli ini’. ‘oh ya, aku jual Muh’, jawab pemilik toko. Saat Muhammad pulang minuman Kiyai Subhi sudah habis.  Tangannya sudah mau disuruh ngangkat minuman. Ah ada-ada saja, begitulah jika orang kasyf ketemu orang kasyf.  Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Desember 1, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | 1 Komentar

Zikir dan Kegaiban (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)

as Salamualaikum Wr.Wb

Habib, saya ingin bertanya pada suatu ketika. saya melakukan amalan-amalan zikir. Tapi pada saat bersamaan itsri saya mengalami hal-hal yang aneh.Pertama, waktu saya tidak salat subuh, karena ketiduran. tapi uniknya istri saya justru melihat saya dikamar sedang salat dan zikir.
kedua, selang beberapa hari kemudian saya sedang mandi untuk persiapan salat subuh, dan istri saya melihat kembaran saya berdiri didalam kamar. Sampai akhirnya istri saya menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan wajah ketakutan. Apakah hal-hal aneh yang istri saya lihat ada hubungannya dengan amalan atau zikir yang saya baca? Mohon maaf Habib, saya tidak menuiliskan apa yang saya amalkan karena bacaan amalannya sangat panjang.

Wasalam.Wr.Wb.

Zaenudin A.M.
Brebes

Waalaikum Salam Wr.Wb.

Ananda Zainudin A.M di Brebes, perlu Ananda ketahui, zikir tidak mengajak dan tidak menjadi keharusan untuk membawa atau mendorong pengamalnya pada kegaiban. Karena salah satu fungsi zikir adalah untuk mengajak pengamalnya lebih mendekatkan diri pada Allah Swt. Selain itu zikir juga akan membawa manusiapada ketenangan  hati. Ala bidzikrillah tatmainnul qulub, yaitu ketenangan hati pribadi yang menjalankan zikir itu sendiri atau bagi yang melihatnya.

Dengan meningkatkan zikir seseorang individu akan dijauhkan Allah Swt. dari sesautu yang mengakibatkan atau mendorong pada perbuatan-perbuatan yang menjurus pada kesyirikan atau kemaksiatan yang lain.

Sedangkan timbulnya sesuatu yang dianggap kegaiban dari zkir, tidak termauk kategori dalam kegaiban berdzikir. kegaiban itu mencul karena ada ketenangan dalam hatinya. Sebagai contoh, orang dari pagi capek bekerja, setelah istirahat sebentar lalu mandi, pakai sabun dan sebagainya, terus ganti pakaian yang bersih. dari kebersihan itu akan tumbuh kesejukan tersendiri bagi pemakainya.

Begitu pula bila hati itu telah bersih. ia semakin peka dan tanggap mampu mengkang nafsu yang suka menggoda dan mendorong untuk berbuat hal-hal yang merugikan. Karena kepekaan yang muncul itu dari hasil zikirnya, ia akan mampu menghindar dari perbuatan yang demikian.

Sedangkan masalah kegaiban itu mungkin saja terjadi. Dia muncul karena faktor lain, yaitu tanda atau peringatan bagi kita. Hal ini sama saja dengan tafsir yang dilakuakan seseorang yang bermimpi dalam tidurnya.Seperti yang dialami si A yang belum salat Subuh dan belum menjalankan zikirnya, tapi sang istri mengetahui ia sedang salat, dan ternyata setelah dilihat sang suami masih tidur. Ini berarti, si ibu mendapat peringatan dari Allah untuk membangunkan sang suami untuk menjalankan salatnya, karena itu adalah kewajibannya.

 Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Desember 1, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | Belum Ada Tanggapan

Mau Sholat Jum’at Di Mana? (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)

Assalamu’alaikum…..

Nuwun Sewu….Saya masih sekolah di SMK N 2 Pekalongan….Saya mau tanya…permasalahan tentang sholat jumat…Di sekolah saya ada musholla….Mushola tersebut di gunakan untuk jumatan setiap hari jumat…jamaahnya dari siswa dan para guru disekolah itu… Saya bingung…..Musholla kok digunakan untuk jumatan..Dan jamaahnya pun bukan mukim…,Saya pernah mempelajari dalam kitab Fathul Qorib kan untuk jamaah Jumat itu harus Mukim…. Terus saya juga bingung jumlah jamaah di sekolah itu ada 40 orang atau tidak…kalau nggak salah kan syarat sah jumat bagi pengikut Imam Syafi’i kan harus ada 40 orang….Kebingungan tersebut masih ada di hatiku…sehingga saya kalau mau jumatan ke Masjid Muhajirin…..

Tolong Minta penjelasan mengenai masalah jumatan tersebut
Terima kasih sebelumnya

Wassalamualaikum……

“Chandra Kurniawan”

Waalaikumsalam Wr.Wb.

Ananda Candra, Saya merasa senang mendapat pertanyaan tersebut, karena hal itu menunjukan perhatian Ananda yang besar terhdap keabsahan ibadah yang Ananda lakukan.

Himah terbesar dari didirikannya shalat Jum’at adalah memperkokoh ukhuwah Islamiyah, maguatkan rasa saling menghormati. Secara terperinci Syekh Abdurahman Al Jaziri mengatakan: “tujuan sholat Jum’at adalah mengumpulkan masyrakat muslim pada satu tempat, untuk beribadah pada Allah. Hal demikian akan menimbulkan rasa saling percaya dalam diri mereka dengan dasar rasa saling menyayangi.

Selanjutnya rasa saling mencintai antar sesama akan tumbuh, lalu akan menimbuhkan kesadaran untuk saling membantu satu sama lain. Dan akan menghilangkan faktor-faktor yang memicu rasa permusuhan. Sehingga satu sama lain melihat dengan pandangan kasiih sayang. Yang kuat akan menolong yang lemah, yang kaya akan membantu yang berkekurangan, yang besar menyayangi yang kecil, yang kecil menghormati yang besar. Semuanya menyadari betul bahwa mereka sama-sama hamba Allah, dan hanya Allah-lah yang Maha kaya dan Maha terpuji…”.

Beliau melanjutkan “… tidak diragukan lagi  bahwa mendirikan shalat Jum’at dibeberapa masjid atau dibeberapa tempat tidak akan dapat menggapai hikmah-hikmah tersebut, karena kaum muslimin terpisah-pisah dalam beberapa masjid, sehingga mereka tidak merasakan keistimewaan yang ditimbulkan dari perkumpulan banyak orang ketika shalat Jum’at. Dan mereka tidak merasakan keagungan Yang Maha Penciptra yang mereka sembah satu perasaan yang mudah didapat ketika dilakukan secara berjamaah. Oleh sebab itu A’imah, para imam-imam berkata; jika shalat jum’at didirikan dalam banyak tempat disatu kawasan, tanpa hajat (seperti masjid tidak memadai) maka shalat jum’at yang sah adalah shalat yang paling dahulu melakukan shalat. Mereka yang yakin didahului dalam melaksanakan shalat jum’at oleh tempat lain, harus melaksnakan shalat dzuhur”. Demikian Syekh Abdurahaman menjelaskan (Al Fiqh ‘ala Madzahib Al Arba’ah, jilid I, hal 385).

Selain itu pada masa Rasulullah Saw. Shalat Jum’at hanya didirikan di masjid Madinah padahal di Madinah ada masjid yang tidak jauh. Nah, hikmahnya itu adalah menimbulkan kewibawaan dalam umat Islam, ketika melihat banyaknya kaum muslimin berkumpul. Dan Nabi Saw dan para sahabat tidak pernah melaksanakan shalat jum’at selain di Masjid, padahal Nabi pernah melaksanakan shalat lain secara berjamaah seperti sunat ‘idul Adha ‘Idul Fitri  ditempat lain, yaitu dilapangan.

Oleh sebab itu apa yang dilakukan Ananda Canra shalat Jum’at  ditempat lain sudah tepat.
Demikian jawaban yang dapat pak Habib berikan.

Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Desember 1, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | Belum Ada Tanggapan

Membersihkan Hati (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)

Asalamualaikum Wr.Wb

Habib Luthfi yang saya hormati dan saya cintai, bagaimana cara membersihkan hati dari berbagai macam bentuk penyakit hati? Saya sangat menginginkan hati ini istiqamah dalam menjalankan ibadah. Terlalu banyak penyakit dihati saya.
Menurut Habib, amaliyah apa yang paling cocok buat saya, dan bagaimana cara saya berbai’at kepada Habib Luthfi? Saya ingin, bahkan sangat ingin berbaiat kepada Habib Luthfi.

Waalaikum Salam Wr. Wb.

Sayyid Mirza bin Irwan Baraqbah
Martapura, Kalimantan selatan

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Saya sangat kagum dan bangga sekali atas pertanyaan anda. Semoga Allah Swt. memberikan keberkahan kepada anda sekeluarga.

Siapapun yang ma’rifatnya hidup, hatinya hidup, akan resah dengan apa yang ada dalam hatinya. kalau-kalau ada penyakit bathiniyah. Bagi orang yang kesadarannya tinggi itu sangat meresahkan.

Cara mengatasinya, pertama, bertaqarub kepada Allah melalui thariqat. Mengganti sifat-sifat yang kurang baik, yang melekat dihati dengan sifat-sifat yang baik, yang senantiasa mengajak kita bertaqarub kepada Allah Swt.

Kedua, kita berusaha menganti ukiran-ukiran yang buruk dalam hati kita dengan ukiran-ukiran yang indah, dengan cara berusaha menjalankan perintah Allah Swt. dan sunnah Baginda Nabi Saw.. Kemudian mendekatkan diri kita pada ulama, menghadiri ta’lim-ta’lim mereka. Karena duduk bersama para alim ulama menimbulkan daya tarik tersendiri bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.

Ketahuilah, manusia itu tempatnya kekurangan. Siapapun mempunyai sipat kekurangan. Mari kita sama-sama belajar mengurangi (bukan menutup-nutupi) kekurangan yang ada pada diri kita masing-masing dengan cara berdzikir. Allah Swt. berfirman, “berdzikir itu menenangkan hati”. Jika hati kita tenang, insyaallah, kita akan lebih mudah mengndalikan keinginan kita untuk berbuat maksiat.

Mengenai keinginan anda untuk berbaiat, saya sangat bersyukur dan bergembira. Luangkanlah waktu untuk ke tempart saya: Jl. Dr. Wahidin No. 70, Noyontaan, Pekalongan. Sebab, JIka melalui surat, tidak bisa dibenarkan. Jadi, kapan saja anda ingin berbai’at, beritahukan kepada kami. Terimaksih.

(Al Kisah Edisi 4-17 Mei 09)

 Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Desember 1, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | Belum Ada Tanggapan

Mengatasi Keraguan dalam Ibadah (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Habib Luthfi yang saya takdzimi, saya seorang santri disalah satu Pondok Pesantren Banyuwangi. AKhir-akhir ini saya mengalami gangguan kejiwaan. Dalam hati saya, sering muncul keragu-raguan atas ibdah yang saya kerjakan. Bagaimana cara mengatasinya?
Wasalamualaikum Wr.Wb.

Muhammad Ilham Zamzami
Banyuwangi

Waalaikum salam Wr.Wb.

Terimakasih atas pertanyaan anda. Sebetulnya, kalau kita mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan perasaan yang masih kurang sempurna, itu baik. Sebab, perasaan ini akan mendorong kita untuk meningkatkan kulaitas ibdah kita dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan memperbaiaki amal ibadah kita, sekalipun orang lain menilai amal ibadah kita sudah sangat bagus.

Jadi, ada baiknya perasaan tersebut dipelihara. Tapi, ingat, jangan menggunakan keyakinan kita. Sebab, kalau masuk ke masalah keyakinan, akan muncul rasa syak, ragu. Misalnya, benarkah shalat yang kita jalankan itu merupakan perintah Allah Swt?

Kita harus yakin, apa yang kita kerjakan adalah perintah Allah Swt. Kita mengerjakannya untuk mentaati perintahnya. Adapun diterima atau tidak, itu urusan Allah Swt. Itu mutlak hak Allah Ta’ala. Memang, kita menginginkan amal ibadah itu diterima. Tapi mau diberi pahala atau tidak, itu urusan Allah Ta’ala. Itulah yang paling baik.

(Al Kisah Edisi 4-17 Mei 09)

Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Desember 1, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | Belum Ada Tanggapan

Adab Menuliskan Nama Nabi SAW (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)

Asslamualaikum Wr. Wb.

Habib Luthfi yang saya muliakan, saya sering membaca tulisan, baik di koran, di majalah, maupun di buku, tentang Nabi Muhammad Saw, yang namanya ditulis tidak lengkap, kadang malah disebut Muhammad saja. Begitu juga dengan penyebutan sahabat nabi Saw, seperti Sayyidina Abu Bakar Ra, Sayyidina Umar Ra, Sayyidina Ustman Ra, dan Sayyidina Ali Ra. Mereka hanya menuliskan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Saya merasa tulisan itu kurang menghormati dan termasuk su’ul adan (adab yang  buruk).

Waalaikumsalam Wr.Wb.

Abdul Haq
Bogor

Waalaikumsalam Wr.Wb

Memang begitulah seharusnya menuliskan nama Rasul atau Nabi dengan gelarnya. Begitu juga dengan para sahabat nabi Muhammad Saw, yang telah mendapatkan ridha Allah Swt, sehingga mendapatkan sebutan “Radiyyallahu  ‘anhum/anhuma”.

Khusus untuk Nabi Muhammad Saw, perintah untuk membacakan shalawat apabila namanya disebutkan, bukan sekedar perintah manusia, tetapi perintah dari Allah SAwt. Dalam Al Quran disebutkan, “ sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikt-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. “ (QS: Al Ahzab: 56).

Jika Allah Swt dan malaikat saja bershalawat kepada Nabi Saw, junjungan kita, kitapun harus demikian.

Dalam menulis nama Allah dalam suatu tulisan, pertama kita tulis dengan lengkap, yaitu Allah subhanahu wataala (SWT) atau Allah taala saja. Selanjutnya boleh kita tulis Allah saja, tetapi dengan niat dan harapan agar para pembacanya menambahkan sendiri bacaan Subhanahu wa Taala (SWT) atau Taala dalam hati.

Begitu juga untuk menulis nama Nabi Muhammad Saw, kita tulis dengan lengkap, dengan tambahan shalallahu alaihi wasalam (SAW), atau didepannya bisa ditambahkan sayyidina atau baginda, atau sebutan penghormatan lain. Nah, baru dipenulisan berikutnya, bisa ditulis Nabi Saw, Rasulullah Saw, atau Nabi atau Rasulullah saja. Tidak sopan  untuk menyebut nama Nabi, junjungan kita hanya dengan Muhammad saja, meski pada awal tulisan sudah kita sebut namanya secara lengkap dengan gelarnya.

Bagi pembaca, bila dituliskan nama Allah, sebaiknya mengucapkan Subhanahu wa Taala, atau Taala. Dan jika dituliskan nama Nabi atau Rasulullah saja, ada baiknya mengucapakan shalallahu alaihi wasalam di dalam hati.

Untuk para sahabat, berlaku begitu juga. Untuk awal tulisan, kita tulis Sayyidina Abu bakar Radiallahu anhu (RA). Untuk penulisan selanjutnya, cukup ditulis Sayyidina Abu Bakar atau Abu bakar saja.

Mengapa para sahabat mendapat gelar Radiallahu ‘anhu, sebab Allah sendiri telah mengucapkan keridhaanNya kepada mereka, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha pada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir, sunga–sungai didalamnya selamanya. Mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS: At-TAubah (9): 100). (SM*AP)

(Al Kisah no 11/tahun VII/1-14 Juni 2009)

Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Desember 1, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | 1 Komentar

Minta Nama Untuk Anak (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)

Assalamu’alaikm…

Pak ya’i, sebelumnya saya minta maaf barangkali kolom ini salah untuk saya bertanya, tapi kiranya mohon dimaafkan atas kesalahan saya, pertama saya ingin sekali bersilaturahim dengan pak ya’i & mohon dikasihkan nama yang bagus untuk anak saya. Terimakasih.
(profil saya: Nurkhasin almt kesesi-pekalongan, sekarang masih menetap di Depok-Jakarta)

Hilman Reload – hilmanreload
Al Habib M. Luthfi bin Yahya Menjawab :

Saya sangat mengidolakan sekali  kepada baginda Nabi Saw.  Setiap anak saya yang laki-laki pasti ada Muhammadnya, nanti sambungannya terserah, mau diberi Muhammad Asadullah, Muhammad  Habibullah, Muhammad kholilurrahman atau Ahmad Izudin dan lain sebagainya.

Kalau prempuan, putri yang paling dicintai oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Adalah Fatimah, Zainab, Ummi kalsum, Raqaiyah.

Dan istri baginda Nabi Saw Khodijah, ‘Aisah. Cobalah anak-anak kita, kita angkat. Seperti anak saya, saya beri nama Fatimah Ni’matullah az Zainabi, yang kedua Ummu Hanni al Fatimi dan sebagainya tidak meninggalkan dari lafad-lafadz Fatimah karena Fatimah merupakan putri yang paling dicintai oleh baginda nabi Saw.

Sehingga ketika di yaumil mahsyar, hari dikumpulkannya manusia di padang Mahsyar, di panggil Allah SWT. Ya Fatimah binti Muhammad Lutfi, ya Fatimah Binti Husain, indah sekali.

Berilah nama anak anda awalnya Muhammad kalau laki-laki dan disambung Muhammad Sa’dullah atau Muhammad Syifa’ ketiga Muhammad Wafa’, mau diteruskan  terserah. Dan kalau prempuan kasihlah nama Fatimah Arinal Muna.

Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Desember 1, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | & Komentar

Thariqat Alawiyyah dan Istiqomah (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)

Assalamualaikum Wr.Wb. HABIIBANA

Maulana Al Habib, bagaimana seharusnya saya. Meskipun sudah pernah berbai’at Thoriqoh namun nafsu dalam jiwa saya sangat sulit dikendalikan sehingga untuk berdzikir beberapa menit saja rasanya sangat berat sekali, apakah ada sesuatu dalam diri saya yang menyebabkan sulit istiqomah dalam setiap amalan yang saya jalani ? Saya pernah bai’at Thoriqoh Alawiyah dibawah mursyid KH. Ali Fahmi Syarif Klangenan Cirebon.
Apakah Thoriqoh dibawah bimbingan Kyai tersebut menurut Maulana Al Habib termasuk Mu’tabaroh ? demikian curahan hati saya semoga Maulana Al Habib berkenan memberikan penjelasan.
Abdul Iman-aby.nayla@yahoo.comAlamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya

Al Habib M. Luthfi bin Ali Yahya Menjawab:

Thariqat Alawiyyah adalah Thariqat mu’tabarah. Idrusiah, Hadaddiayh itu semua pecahan Thariqat Alawiyyah. Dan Thariqat Alawiyyah bersumberkan dari Sayiidina Faqih Muqadam Sayid Muhammad bin Alwi Ba’ Alawi dari Abahnya sampai ke Rasulullah Saw.  Dan Dari Abi Madin Al Maghrabi. Adapun masalah pribadi KH. Ali Fahmi Syarif sendiri kami kurang mengetahui. Kalau Anda bertanya tentang thariqatnya, mu’tabarah.

Hebatnya orang istiqamah itu mengapa sampai mendapat kedudukan lebih utama dari seribu karamah, kenapa Istiqomah lebih utama dari seribu karamah? Karena dari berkah Istiqamah itu didapatkan alfi karamah, seribu karamah. Itu maksudnya. Karena apa? karena Al istiqomah itu memerlukan memerangi nafsu.

Justru dengan adanya dzkir tersebut adalah untuk membersihkan pengaruh-pengaruh hawa nafsu-hawa nafsu yang ada dalam setiap hati kita. Jadikanlah dzikir itu keperluan kita sehari-hari, walaupun tidak pasti istiqomah, seandainya dzkir itu dijadikan keperluannya untuk mendekat kepada Allah, selain yang lima waktu masukdnya. Insyaallah. Tidak ada orang yang menghitung sepuluh kecuali pasti dari satu, tidak ada orang yang membaca huruf hijaiyyah langsung Iya  (ي) kecuali pasti memulai dari alif (أ). Demikian penjelasan yang dapat Habib berikan.

  Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Desember 1, 2009 Ditulis oleh pecintarasulullah | Artikel Islam | | Belum Ada Tanggapan